MALUKU UTARA — Ratusan pelari dan pejalan kaki memadati area Gedung Energy, SCBD, Jakarta, Minggu pagi. Mereka bukan sekadar berolahraga, melainkan bagian dari strategi membangun soliditas industri energi terbarukan. Para peserta menempuh dua kategori rute, yakni 5K Fun Walk dan 10K Peloton Run, yang melintasi jalur utama ibu kota.
Hadir dalam kesempatan itu jajaran direksi perusahaan pengembang panas bumi, mitra bisnis, sponsor strategis, komunitas geothermal, hingga perwakilan instansi pemerintah. Kehadiran mereka menjadi sinyal nyata bahwa kolaborasi antarpemangku kepentingan menguat menjelang gelaran IIGCE 2026.
Stamina Industri Jadi Fondasi Transisi Energi
Ketua Umum INAGA, Julfi Hadi, menegaskan bahwa akselerasi pengembangan energi panas bumi tidak hanya bergantung pada teknologi dan pendanaan. Menurutnya, soliditas para pemangku kepentingan menjadi fondasi utama sebelum membahas isu-isu kebijakan energi di konvensi IIGCE.
"Sebelum kita membahas isu-isu krusial dan kebijakan energi di konvensi IIGCE pertengahan bulan nanti, hari ini kita menyatukan langkah dan mempererat kolaborasi di lapangan lewat cara yang sehat dan menyenangkan," ujar Julfi dalam sambutannya.
Antusiasme Peserta dan Sponsor Meningkat
Ketua Panitia Pelaksana Geothermal Fun Walk & Run 2026, Chandra A. Salim, mengapresiasi tingginya partisipasi peserta dan mitra sponsor. Ia menyebut kegiatan ini dirancang sebagai ruang keakraban yang mengikat seluruh ekosistem panas bumi, bukan sekadar ajang olahraga.
"Suksesnya pelaksanaan rute Fun Walk dan Peloton Run pagi ini tak lepas dari dukungan penuh para sponsor serta semangat kebersamaan seluruh peserta," ungkap Chandra usai menyambut para pelari di garis finish.
Kegiatan ini menjadi pemanasan menuju IIGCE 2026 yang dijadwalkan berlangsung pertengahan bulan. Konvensi tersebut akan menjadi wadah pembahasan kebijakan energi, peluang investasi, serta perkembangan teknologi panas bumi di Indonesia.
Dengan suksesnya agenda pembuka ini, INAGA berharap sinergi yang terbangun dapat mempercepat target pemerintah dalam pengembangan energi panas bumi nasional. Industri ini dinilai memiliki peran strategis dalam mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT) sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.