MALUKU UTARA — Hasil uji alir (production test) yang tuntas pada 6 Agustus 2026 menunjukkan kualitas sumur yang melampaui ekspektasi. Selain minyak, sumur ini juga menyemburkan gas sebesar 1,28 MMSCFD dengan kandungan air (BS&W) 0 persen, menandakan fluida yang dihasilkan sangat bersih dan siap diolah.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan, pengeboran sumur SA-3 telah mencapai kedalaman akhir (total depth) di 6.440 ftMD/6.209 ftTVD, sesuai rencana awal. Pengeboran sendiri dimulai pada 7 Mei 2026 dengan menggunakan Rig ECI#2 berkapasitas 1.000 HP.
Kinerja Sumur dan Target Nasional
Interval perforasi yang diuji berada di kedalaman 6.063–6.072 ftMD pada Formasi Talang Akar. Hasilnya, dengan bean choke 128/64, sumur mampu mengalirkan minyak jauh di atas perkiraan awal. Djoko menyebut kinerja ini sangat baik dan akan segera berkontribusi pada produksi nasional.
“Hasil pengujian menunjukkan kinerja sumur yang sangat baik dengan laju alir dengan bean choke 128/64 sebesar 2.467 BOPD, produksi gas sebesar 1,28 MMSCFD, serta BS&W sebesar 0%, yang mengindikasikan fluida produksi memiliki kualitas yang sangat baik tanpa kandungan air,” jelas Djoko dalam keterangan resminya, Jumat (7/8).
Temuan ini menjadi sinyal positif di tengah upaya pemerintah mengejar target produksi minyak 1 juta barel per hari. Setiap tambahan pasokan dari sumur baru seperti SA-3 dinilai krusial untuk menahan laju penurunan alamiah lapangan tua.
Strategi Percepatan Onstream
Sumur SA-3 direncanakan mulai berproduksi (onstream) pada Agustus 2026. Untuk mempercepat aliran komersial, PT Sele Raya Belida akan menggunakan metode trucking sebagai solusi sementara. Langkah ini diambil sambil menunggu penyelesaian jalur pipa produksi permanen.
“Dengan selesainya kegiatan production test serta rencana percepatan onstream, Sumur Sungai Anggur-3 diharapkan segera memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi minyak dan gas bumi nasional serta mendukung pencapaian target produksi yang telah ditetapkan,” kata Djoko.
Metode trucking dipilih agar minyak dari sumur ini bisa segera dijual dan diolah tanpa harus menunggu infrastruktur pipa rampung. Langkah ini kerap dipakai untuk sumur-sumur baru yang lokasinya belum terhubung jaringan pipa.
Dampak bagi Industri Hulu Migas
Keberhasilan sumur SA-3 menegaskan potensi blok yang dikelola PT Sele Raya Belida. Dengan biaya pengeboran yang sudah dikeluarkan, hasil uji alir yang tinggi berarti pengembalian investasi bisa lebih cepat dari perkiraan.
Bagi SKK Migas, capaian ini juga menjadi bahan evaluasi positif terhadap perencanaan pengeboran berikutnya. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin target produksi dari wilayah kerja ini akan di