TERNATE — Tim Disperindag Provinsi Maluku Utara mencatat harga rica nona di sejumlah pasar Kota Ternate kembali stabil pada siang hari. Sebelumnya, lonjakan harga terjadi pada pagi hari ketika stok di pedagang menipis. Variasi harga antar-pedagang masih terlihat, tergantung waktu pembelian dan jumlah barang yang tersedia di lapak.
Pedagang Jual Rp160 Ribu hingga Rp180 Ribu per Kilogram
Salah satu pedagang, Umar, menyebut harga rica nona pada siang hari berada di kisaran Rp180 ribu per kilogram. Pedagang lain menjual komoditas yang sama dengan harga Rp160 ribu per kilogram. Selisih ini muncul karena perbedaan waktu kulakan dan sisa stok masing-masing lapak.
"Pagi harga sering naik, siang kembali stabil berkisar di harga Rp180 ribu per kilogram untuk rica nona, sedangkan rica karibo Rp150 ribu," ujar Umar.
Rica karibo sendiri dijual sekitar Rp150 ribu per kilogram di pasar Kota Ternate.
Harga di Tingkat Distributor Capai Rp150 Ribu
Di jalur distribusi, harga rica nona dilaporkan mencapai Rp150 ribu per kilogram. Ato, salah satu distributor rica nona di Ternate, menyebut harga tersebut berlaku pada Jumat pagi, 9 Oktober 2026. Angka ini lebih rendah dibanding harga eceran karena pembelian dilakukan dalam jumlah besar.
Mengapa Harga Bisa Berbeda Antar-Pedagang?
Nur, selaku agen barito, menilai perbedaan informasi harga perlu dilihat berdasarkan waktu pengambilan data, ketersediaan stok, serta tingkat perdagangan. Menurut dia, harga di tingkat eceran wajar berbeda dengan harga grosir.
"Harga di tingkat eceran juga dapat berbeda dengan harga grosir," ujar Nur.
Pola ini menunjukkan harga rica nona di Ternate bergerak mengikuti pasokan dan jalur distribusi, mulai dari distributor hingga pedagang eceran. Ketika stok di pasar menipis, harga pagi bisa melonjak sebelum kembali normal saat barang baru masuk pada siang hari.
Pantauan Disperindag Jadi Acuan Harga Harian
Pemantauan rutin Disperindag Provinsi Maluku Utara bersama awak media dilakukan untuk merekam pergerakan harga komoditas pokok di pasar. Data ini menjadi acuan bagi warga Ternate dalam memperkirakan harga belanja harian, terutama untuk bumbu dapur yang pasokannya bergantung pada hasil panen dan pengiriman antarwilayah.