MALUKU UTARA — Stupa induk di puncak Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sedang dipugar sejak 16 September hingga 24 Oktober 2026. Selama pemugaran, pengunjung reguler dibatasi hanya sampai lantai 8, sementara peserta program sunrise dan sunset bisa naik hingga lantai 9. Pekerjaan di lantai 10 ini dilakukan karena sejumlah bagian batu dinilai sudah lama dan belum pernah diperiksa.
PT InJourney Destination Management (IDM) selaku pengelola kawasan Borobudur memastikan pemugaran stupa utama atau yasti tidak menghentikan kunjungan wisata. Perusahaan pelat merah itu mengatur ulang alur pengunjung agar pekerjaan perbaikan tetap berjalan tanpa terganggu aktivitas wisatawan.
"Jadi kita itu sekarang sedang ada pemugaran stupa utama, pemugaran yasti yang di stupa utama. Karena memang sudah ada riset, ternyata ada beberapa part (bagian) yang memang harus diperbaiki," jelas Direktur Operasi PT InJourney Destination Management (IDM), Indung Purwita Jati, usai penandatanganan kerja sama dengan Pertamina New & Renewable Energy di Borobudur Cultural Center (BCC), Magelang, Senin (5/10/2026).
Indung menyebut perbaikan berlangsung cukup masif. Batu-batu penyusun stupa sudah berusia sangat lama dan belum pernah menjalani pemeriksaan menyeluruh sejak terakhir dipugar.
"Nah, perbaikannya cukup masif karena kan ini kan batu sudah cukup lama dan belum pernah kita cek, belum pernah kita pugar. Nah, makanya sekarang kalau mungkin teman-teman melihat di atas (puncak) kok sepertinya ada konstruksi scaffolding segala macam. Itu adalah sedang pemugaran yasti di stupa utama," sambung Indung.
Pemugaran berlangsung di lantai 10 candi. Dari situ pengelola menerapkan rekayasa alur kunjungan yang membatasi ketinggian akses bagi setiap kategori pengunjung.
Pengunjung reguler maksimal bisa naik sampai lantai 8. Sementara peserta program sunrise dan sunset mendapat akses lebih tinggi hingga lantai 9.
"Untuk pengunjung reguler itu maksimal bisa naik sampai dengan lantai 8. Sedangkan untuk yang program sunrise, sunset, itu bisa sampai lantai 9, karena memang pekerjaan itu diadakan di lantai 10," ujarnya.
Indung menegaskan pembatasan ini penting agar pekerjaan pemugaran berjalan lancar dan tidak terganggu wisatawan yang naik ke atas candi.
Soal teknis bahan baku pemugaran, Indung menyerahkan sepenuhnya ke pihak Museum dan Cagar Budaya (MCB). InJourney IDM fokus memastikan alur kunjungan wisatawan tetap terlayani selama proses berlangsung.
"Jadi kalau secara teknis nanti mungkin bisa ditanyakan ke Museum Cagar Budaya atau mungkin juga mungkin di Instagram segala macam. Kan itu sudah informasinya cukup lengkap ya untuk proses itu. Sedangkan kami di sini kan lebih fokus untuk dari pengelolaan pengunjung," lanjutnya.
Menurut Indung, hingga kini tidak ada komplain dari pengunjung. Wisatawan tetap bisa menikmati pemandangan Borobudur dari atas meski akses ke lantai 10 ditutup sementara.
"Begitu, memastikan pengunjung tetap nyaman dan tidak terganggu. Itu sekarang solved (selesai), tidak ada komplain dari pengunjung. Pengunjung tetap juga bisa menikmati Borobudur dari atas," kata dia.
Bagian chattra atau payung puncak candi sampai sekarang belum dilakukan pemugaran. Indung menyatakan hal itu bukan ranah pengelolanya untuk menjawab.
"Kalau masalah chattra bukan ranah kita untuk menjawab. Itu nanti dari pemerintah yang akan menjawab dan dari pihak kebudayaan yang menjawab. Jadi kalau setahu kami di sini, kami bisa menginformasikan kalau sekarang prosesnya adalah pemugaran atau perbaikan dari stupa utama," tegas dia.
Pihak MCB belum memberikan penjelasan rinci soal pemugaran ini. Sub Koordinator Unit Warisan Dunia Borobudur, Wiwit Kasiyati, menyatakan belum menerima informasi resmi dari pusat.
"Betul kami WFH. Maaf sampai sekarang ini belum ada informasi dari pusat (rilis pemugaran stupa) dari pusat (Kemenbud)," kata Wiwit Kasiyati saat dikonfirmasi.
Sejumlah wisatawan mengaku kecewa karena tidak bisa melihat stupa induk secara utuh. Rita Sugiani (35), wisatawan asal Cirebon yang datang bersama empat orang termasuk anak-anaknya, menilai pemugaran mengganggu pemandangan.
"Menurut dari pandangan saya kurang sreg. Karena merusak pandangan. Harusnya kan kelihatan full seperti yang tertera di gambar (brosur) atau aslinya," ujar Rita kepada wartawan di Marga Utama Candi Borobudur.
Rita mengaku terakhir berkunjung ke Borobudur sekitar 2019. Saat itu ia masih bisa naik ke puncak tanpa penutupan seperti sekarang.
"Dulu boleh naik, tiketnya nggak terlalu mahal. Sama ujung (stupa) nggak ada penutupan seperti ini. Senang lah dulu," tuturnya.
Keluhan serupa datang dari Nihayah (26), wisatawan asal Rembang. Ia ingin berfoto dengan latar stupa induk, tetapi harus menerima kondisi bangunan yang sedang diperbaiki.
"Saya datang ingin berfoto dengan latar belakang stupa induk, tapi sampai sini (Candi Borobudur) stupa induk lagi dibangun. Ya, jadi mau-mau tetap foto, meski agak sedikit kecewa," ujarnya.
Bagi yang berencana berkunjung dalam periode pemugaran, informasi terkini soal alur dan jam kunjungan dapat dikonfirmasi melalui kanal resmi pengelola Borobudur atau dinas pariwisata setempat.
Artikel ini telah naik di detikJateng.