SANANA — Sejumlah pembeli di Kota Sanana mencatat harga pala dan coklat belum menunjukkan pola tetap dalam beberapa waktu terakhir. Biji pala kategori super dihargai Rp80 ribu per kilogram, sedangkan pala hancur Rp50 ribu per kilogram. Bagian fuli atau bunga pala dibeli jauh lebih murah, yakni Rp250 per kilogram.
Untuk coklat kering, harga justru mengalami penurunan. Sebelumnya komoditas ini dibanderol Rp50 ribu per kilogram, kini menjadi Rp48 ribu per kilogram.
Simon, seorang pembeli di Sanana, menyebut harga pala maupun coklat saat ini tidak menentu. Menurutnya, kondisi itu berkaitan dengan berkurangnya hasil panen petani.
"Sekarang harga naik turun. Baik itu pala maupun cengkih maupun coklat," ujarnya, Senin 5 Oktober 2026.
Fluktuasi ini membuat pembeli dan petani sama-sama sulit memprediksi pendapatan. Pasokan yang menipis di tingkat petani menjadi salah satu pemicu utama.
Di antara komoditas perkebunan lain, cengkih disebut relatif stabil dalam beberapa bulan terakhir. Harganya bertahan di angka Rp120 ribu per kilogram.
Stabilitas cengkih itu menjadi pembanding tersendiri bagi petani yang juga menanam pala dan coklat di wilayah Kepulauan Sula. Namun, kondisi ini belum cukup menutup gejolak harga dua komoditas lainnya.
Simon berharap harga pala, cengkih, dan coklat bisa kembali stabil. Menurutnya, kepastian harga penting agar petani memperoleh hasil yang memuaskan.
"Saya berharap harga pala, cengkih, coklat tetap stabil sehingga para petani dapat memperoleh hasil yang memuaskan," ucapnya.
Kepulauan Sula dikenal sebagai salah satu daerah penghasil pala dan coklat di Maluku Utara. Gejolak harga di tingkat pembeli biasanya langsung berdampak pada pendapatan harian petani di kampung-kampung sekitar Sanana.