MALUKU UTARA — Harga batu bara termal di Pelabuhan Qinhuangdao, patokan China, naik 0,5 persen ke level tertinggi dalam tiga tahun sebesar 986 yuan (Rp2,6 juta) per ton pada pekan yang berakhir 28 September. Kenaikan ini menandai pekan ke-11 berturut-turut lonjakan harga, dipicu terhambatnya produksi domestik dan impor. Pembangkit listrik dan pabrik di China berpotensi menghadapi tekanan biaya bahan bakar yang lebih besar.
Paragraf pembuka: Sejak pertengahan Juli 2026, harga batu bara di China telah melonjak 24 persen. Negara itu menambang dan membakar setengah dari total batu bara dunia, sehingga pergerakan harga di Pelabuhan Qinhuangdao menjadi acuan penting bagi pasar energi global. Tekanan pasokan dari dalam negeri maupun luar negeri menjadi pendorong utama reli harga kali ini.
Terhambatnya produksi batu bara dalam negeri China membuat pasokan ke pembangkit listrik dan pabrik tidak bisa mengimbangi permintaan. Situasi ini diperparah oleh melemahnya impor, sehingga stok di pelabuhan utama seperti Qinhuangdao menipis.
Qinhuangdao sendiri merupakan pelabuhan batu bara terbesar di China bagian utara. Harga di pelabuhan ini menjadi tolok ukur bagi transaksi batu bara termal di seluruh negeri.
Lonjakan 24 persen sejak pertengahan Juli menunjukkan bahwa pasar belum menemukan titik keseimbangan baru antara pasokan dan permintaan.
Meski China gencar mengembangkan energi terbarukan, batu bara masih menyumbang sekitar 50 persen dari produksi listrik negara itu. Artinya, setiap kenaikan harga batu bara langsung terasa di ongkos produksi listrik.
Pemerintah China telah memasang kapasitas panel surya dan turbin angin dalam jumlah besar beberapa tahun terakhir. Namun, ketergantungan pada batu bara sebagai sumber energi dasar belum bisa digantikan sepenuhnya.
Kombinasi antara permintaan listrik yang tinggi dan pasokan batu bara yang seret menciptakan kondisi pasar yang ketat.
Kenaikan harga batu bara ini berpotensi menggerus keuntungan pembangkit listrik di China. Jika biaya bahan bakar terus naik sementara tarif listrik tidak bisa serta-merta disesuaikan, margin operator pembangkit akan tertekan.
Beberapa pabrik juga diperkirakan menghadapi kenaikan harga listrik. Industri padat energi seperti peleburan logam dan semen menjadi yang paling rentan terdampak.
Bagi pasar global, termasuk Indonesia sebagai eksportir batu bara, reli harga ini bisa menjadi sinyal positif. Permintaan impor dari China yang kembali menguat berpotensi mendorong harga batu bara acuan dunia.
Penutup: Reli 11 pekan berturut-turut ini menunjukkan bahwa transisi energi China belum cukup cepat untuk melepaskan ketergantungan pada batu bara. Selama pasokan domestik dan impor belum pulih, harga batu bara di Pelabuhan Qinhuangdao berpotensi tetap bertahan di level tinggi.